Senin, 02 Mei 2011

Matahari & Lilin


Seseorang yang spesial berpesan padaku :

Jadilah seperti matahari yang bisa memberikan cahaya serta kehangatan kepada seluruh penduduk bumi.
Ia memang akan tenggelam saat senja mulai menyambut, namun itu hanya sementara sebagai waktu istirahatnya untuk mempersiapkan terbit di esok hari.
Ia juga kadang tertutup oleh awan yang senantiasa menemani. Bahkan terkadang hujan pun turut menjadi sahabatnya. Dan itulah tanda, bahwa ia siap menjadi sahabat tatkala langit terkesan murung dengan mendung, terkesan menangis karena hujan.
Bahkan, pelangi pun juga menjadi sahabatnya hingga langit terlihat indah.
Tidak hanya itu, cahayanya pun dibutuhkan oleh penghias langit malam, yaitu sang bintang.
Itulah matahari, yang senantiasa sinar dan kehangatannya dinantikan, dibutuhkan.
Ia baru akan benar-benar pergi ketika Sang Pencipta memang memutuskannya untuk tidak bisa lagi memberikan sinar dan hangatnya.

Harapannya agar aku bisa seperti matahari dan bukan lilin.
Karena lilin akan lumer ketika mulai memberikan cahaya dan kehangatan bagi lingkungannya.
Cahayanya pun terbatas.
Dan matahari, ia kuat dan menguatkan.
Ia bisa memberikan cahaya dan hangat tanpa harus lumer karenanya.
Ketika ia tenggelam di kala senja, itu adalah bentuk istirahatnya untuk memberikan harapan baru lagi di esok hari.

Itulah harapannya.
Agar aku layaknya matahari yang kuat dan menguatkan.
Yang mampu menjadi sahabat bagi siapapun.
Yang mampu memberikan kebaikan pada banyak pihak.
Yang semakin bermanfaat setiap waktunya sebagai manusia.

Rabu, 18 Agustus 2010

MERDEKA!!!


MERDEKA!!!
Itu yang berulang kali saya dengar kemarin. Berbagai stasiun TV tiada habis mengulas tentang sejarah bangsa ini, mulai dari tayangan film kolosal hingga konser musik yang katanya menyambut kemerdekaan yang entah hal itu hanya sekedar hiburan semata atau bukan.

MERDEKA!!!
Apa iya, saat ini setiap orang merasakan hal tersebut.
Tapi sepertinya kata itu telah mengalami perubahan makna.
Oh bukan, lebih tepatnya diferensiasi pada setiap orangnya.
Merdekamu tak berarti merdekaku.

MERDEKA!!!
Mungkin bagi para pemulung memaknai sebuah kemerdekaan dengan cara pekerjaannya yang tak lagi mengais sampah.
Bagi para pengusaha, bisa jadi dimaknai yang penting usahanya makin maju dan tanpa peduli bagaimana dampaknya ke masyarakat luas, akhirnya pembangunan ekonomi terjadi dimana-mana tanpa pernah memikirkan dampak ke masyarkat luas yang hanya diperbudak dan direkayas menjadi masyarakat konsumtif.
Yang kaya makin kaya, yang miskin makin merana.
Bagi para ahli politik, mencari bibit-bibit lain yang bisa digunakan untuk mengeruk kepentingan pribadinya, mulai dari minta mobil, laptop, tambahan gaji, meskipun kondisi bangsa ini malah makin carut marut dan tidak sesuai dengan imbalan yang mereka peroleh.

MERDEKA!!!
Secara umum artinya bebas.
Tapi bebas dalam konteks siapa?
Tampaknya kata itu akhirnya hanya akan melahirkan perdebatan di kelas-kelas filsafat atau sejarah.
Dan akhirnya semua hanya tahu, arti merdeka adalah bebas.
Dalam pandangan siap, tak lagi menjadi penting, yang utama adalah "BEBAS".

MERDEKA!!!
Akhirnya kata itu hanya bertahan satu haris, atau dua hari, atau satu minggu, tapi kurasa tak sampai satu bulan.
Dan baru akan terdengar lagi satu tahun kemudian ketika telah mendekati harinya.
Merdeka satu hari, akhirnya hal itu yang terjadi.
Dan bangsa ini akhirnya hanya bisa menikmati kemerdekaan semu yang bahkan mereka tida sadar sedang dijajah.
Atau bahkan mungkin, mereka sebenarnya sadar, tapi penjajajhan yang dilakukan oleh bangsa lain terlalu nikmat untuk ditinggalkan begitu saja.
Hingga akhirnya mereka terbuai dengan "KEMERDEKAANNYA".

MERDEKA!!!
Akankah tahun depan akan mengulang tahun-tahun sebelumnya?
Entahlah...

Kamis, 29 Juli 2010

Cinta Satu Muara


Pernikahan...
Mungkin karena menjelang ramadhan hingga banyak orang yang mengejar target menikah di bulan ini. Ada juga yang mengejar setelah ramadhan. Bahkan ada juga yang mengejar tanggal cantik agar mudah diingat. Contohnya saja tanggal 10 bulan 10 tahun 10. Yang jelas, setiap mereka memiliki pertimbangan masing-masing.

Pernikahan...
Undangan kian menggunung di kamar. Undangan dari sana, undangan dari sini, undangan dari situ, bahkan undangan dari sono. Bergulir terus satu per satu. Waktu ini memang cepat berlalu. Dulu, aku sering ikut orangtua kondangan kemana-mana. Sekarang, aku pergi sendiri atau bersama beberapa teman. Tak terasa, ternyata masa itu sudah harus dilewati.

Pernikahan...
Ada berbagai cara yang digunakan para sahabat untuk bisa melangkah ke tahap itu. Mulai dari langkah pacaran hingga mengikuti syariat. Dan pastinya, apa yang mereka lakukan berlandaskan cinta. Entah, memiliki muara yang sama atau tidak.

Pernikahan...
Teringat dengan sebuah pepatah jawa yang mengatakan bahwa cinta hadir karena telah terbiasa. Aku hanya bisa menjawab dengan kata, "Entahlah" (rasa-rasanya sudah terlalu banyak kata "entahlah" yang kukeluarkan dalam setiap tulisanku). Sebanrnya aku menyepakatinya meskipun tidak terlalu sepenuhnya. Karena toh, banyak sekali peristiwa yang bertolak belakang dengan kata pepatah itu. Karena terbiasanya, mereka mulai bosan, jenuh, penat hingga mencari pelarian. Bahkan ada yang memilih berpisah karena terbiasanya. Tak masuk akal kupikir. Tapi itulah realita yang kutemui bahkan kita semua jumpai di negeri yang sudah tak jelas lagi ini. Hingga akhirnya, aku menemukan kesimpulan. Mungkin mereka belum menemukan muara cinta sebenarnya.

Pernikahan...
Aku sepakat jika hal ini dilakukan berlandaskan cinta. Cinta pada muara yang tepat. Dalam hal ini bukanlah dalam konteks calon pasangan melainkan pada Sang Pemegang Otoritas, Sang Pemilik Hati. Jika muara cinta ini hanya satu, yaitu ALLAH, aku yakin cinta itu akan selalu segar dan tidak akan pernah membosankan. Karena cinta satu muara, hanya punya satu muara. Dan dari muara itu, cinta dengan sendirinya mengguyur deras pada setiap makhluk hidup di bumi ALLAH ini yang kemudian membasahi mereka dan memberikan inspirasi untuk turut memercikkan rasa itu ke makhluk ALLAH yang lain.

***

Cinta satu muara hanya punya satu muara. ALLAH.
Setiap kita akan melangkah, maka muaranya hanya satu.
Setiap kita terjerat masalah, maka peraduannya pun hanya satu.
Setiap kita tertimpa musibah, maka tempat pertolongannya pun hanya satu.
Setiap kita merasakan cinta, maka sudah semestinya muaranya pun hanya satu.
Hingga akhirnya, ketika kita siap menikah, maka muaranya pun hanya satu.
ALLAH.

Cinta satu muara, merupakan cinta yang produktif dan aktif.
Hanya tahu memberi dan memberi dan ingin yang diberi menjadi lebih baik.
Bukan dalam kondisi sebaliknya.

Cinta satu muara, cinta yang tak akan pernah lekang oleh waktu.
Muaranya hanya satu dan satu-satunya, sedangkan lain adalah bentuk dan realisasi dari cinta satu muara tersebut.
Jadi jangan heran, ketika ada keluarga yang bisa mempertahankan bahkan membuat kondisi keluarganya luar biasa maju dan hebat (konteks dunia dan akhirat). Karena muara cinta mereka memang hanya satu.

Cinta satu muara, cinta ini selektif karena hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang benar-benar ingin merasakannya. Usaha untuk mencapainya pun terbilang cukup berat. Justru itu yang menguji cinta. Apakah cinta itu berada pada muara yang tepat atau hanya sekedar cinta tanpa muara.

Cinta satu muara melibatkan ruh, jasad dan pikiran untuk menggapainya.
Cinta satu muara, hanya ALLAH muaranya.