Selasa, 06 April 2010

...Luka dibalik Senyum...


Sebuah kisah pendek tentang bagaimana rasanya mengingkari, membohongi hingga memendam perasaan yang sebenarnya akan menjadi penyakit hati pada akhirnya...

pernah merasa kesal, namun semua itu tak boleh ditumpahkan? bahkan jika itu ditumpahkan pun, hanya akan dipersalahkan meskipun kita merasa tak salah dan tak semestinya kita satu-satunya orang yang dipersalahkan...

pernah merasa marah memuncak, namun mencoba untuk menyalahi bahkan merutuki diri sendiri karena merasa tak hanya orang lain yang turut andil atas marahnya kita, tapi juga diri sendiri...

pernah merasa menyayangi tapi bahkan untuk mengungkapkannya pun sulit untuk diutarakan bahkan kadang diutarakan dengan cara yang aneh dan tak dimengerti orang lain, hingga kadang melahirkan kesalahpahaman...

pernah merasa khawatir terhadap orang lain, namun dianggap memiliki perasaan yang jauh lebih dalam dari itu? padahal memang karakter kita yang kadang terbawa panik...

pernah merasa sangat marah dengan orang yang dikasihi, namun hanya bisa diam dan menyimpan amarah itu hingga keluar menjadi tangis... hanya karena tak ingin ada hati lagi yang tersakiti...

Senyum itu terlukis indah di wajah...
tulus tapi ternyata berbalut luka yang mendalam...
luka hati yang sulit terobati dan berusaha semua larut oleh waktu yang tak sebentar...

berusaha senyum untuk memotivasi diri sendiri meskipun sebenarnya luka itu masih tertancap, sulit tercabut...
hati itu telah sobek, meskipun berusaha untuk dijahit...
namun, apapun setelah sobek dan dijahit pasti akan meninggalkan bekas luka...

meskipun senyum itu masih menghiasi...
bukan berarti maaf tak diberi...
namun, luka hati teramat sulit diobati...
maka, berhati-hatilah dengan hati...

Senin, 05 April 2010

Penokohan Sempurna dari Makhluk yang Tak Sempurna


Satu hal yang kupelajari dari dakwah di SMA adalah pentingnya penokohan di sana
Dan semua telah berubah, tidak seperti ketika ku SMA dulu
Mereka jauh lebih kritis dan rasa ingin tahu mereka jauh lebih besar
Otomatis, dakwah pun berjalan semakin dinamis saat ini

Ya…
Penokohan sempurna dari makhluk yang tak sempurna.
Bagi mereka, senior harus jauh lebih tau banyak…
Wajar, akupun pasti seperti itu
Tapi kalo mengharapkan senior tahu segalanya???
Itulah mereka, setidaknya beberapa di antara mereka seperti itu…

Dakwah memang tidak mudah dan penuh tantangan
Tapi di situlah seninya
Ketika hati mulai terkoyak atau bahagia karenanya
Cukup dinikmati saja
Bahkan anggap saja dakwah merupakan rekreasi dari segala beban masalah duniawi
Rasanya jauh lebih nikmat dan enjoy, meskipun terasa berat dan banyak hal yang kadang bikin jengkel
Tapi semuanya tak lebih untuk membuat kita bersikap jauh lebih bijak dalam berdakwah bukan?!

Namun, ternyata…
Penokohan sempurna tersebut tak hanya diinginkan oleh para pelajar SMA, tapi juga alumninya…
Tidak semua orang menyadari bahwasannya setiap orang memiliki keunikan tersendiri
Dan keunikannya tidaklah sempurna
Dari ketidaksempurnaan tersebut akhirnya berkumpul dalam sebuah wadah untuk menyalurkan keunikan mereka…
Meskipun kesempurnaan tak akan pernah dicapai, setidaknya lebih baik setiap saatnya akan selalu diusahakan…

Terkadang rasa ketidakpuasan itu muncul atau melahirkan rasa kecewa yang teramat dalam
Hingga rasanya ingin lari dan berpindah, jauh
Namun, tahukah…
Ketika ketidakpuasan itu mulai muncul, mengapa bukan kita yang berusaha untuk memperbaiki segalanya dengan mengkomunikasikan segalanya dan berusaha mengajak dan menyempurnakan yang tak akan pernah sempurna…
Setidaknya, kesempurnaan bisa kita rasakan dari apa yang kita usahakan…

Itulah dakwah…
Jika memang kita berjuang bukan karena apa-apa dan siapa-siapa…
Lalu mengapa harus merasa kecewa dengan segala hal yang terjadi dan tak kita harapkan…
Dan kenapa ada perasaan ingin lari atau bahkan lari dalam kondisi sebenarnya…
Jika begitu caranya…
Masihkah niat kita berjuang karena ALLAH…
Jika memang iya, maka ikhlaskan segalanya…
Segala hal yang tak membuat kita puas atau bahkan kecewa…
Jadikan diri kita solusi atas setiap ketidakpuasan dan kekecewaan…
Bukan pergi melarikan diri dan bercerita tentang segala yang terjadi…
Seolah kita tak turut andil dalam masalah kepergian kita dari sarana ini…
So, bersabarlah jika memang semua tak seperti apa yang kita harapkan…

...sederhana...


sederhana...
kata yang "sederhana" sesuai dengan namanya...
namun, pada akhirnya sederhana tinggallah sebuah kata tanpa makna...
hanya terurai dari bibir tanpa terealisasi dalam diri...

itukah sederhana?
toh sederhana pun memiliki definisi berbeda pada tiap makhluk-NYA
sederhana pada satu orang tak sama dengan sederhana pada orang yang lain...
bahkan kadang terkesan jauh lebih mewah...
tapi itulah indahnya...

manusia diciptakan bukan untuk menyamakan setiap halnya...
namun untuk menyikapi segala perbedaan dengan sederhana meskipun tak sesederhana pada pandangan kita...

sederhana, pada akhirnya berbeda pada tiap makhluk-NYA...
sederhanaku, tak berarti sederhanamu...
begitu juga sebaliknya...

setidaknya, kita bisa menyikapi kesederhaan kita masing-masing dengan cara yang paling sederhana...